
Tidak semua anak mengenal sosok ibu dalam satu peran yang sama. Ada yang tumbuh bersama ibu kandung, ada yang bersama ibu pondok, ibu panti, ibu angkat, atau perempuan lain yang memilih hadir bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian. Hari Ibu menjadi momen untuk melihat kembali makna kehadiran tersebut dalam kehidupan anak.
Ruang Pengasuhan yang Tidak Selalu Utuh
Bagi banyak anak yatim dan dhuafa, ruang pengasuhan tidak selalu berada dalam keluarga inti. Pesantren dan panti asuhan menjadi tempat bertumbuh, sekaligus ruang bagi peran ibu untuk hadir dengan cara yang berbeda. Bukan melalui ikatan darah, melainkan melalui keseharian: memastikan anak terurus, mendapat perhatian, dan tidak merasa sendiri.
Peran ibu kerap terlihat dalam hal-hal sederhana. Mengingatkan waktu makan, memastikan anak cukup istirahat, mendengarkan cerita mereka sepulang belajar, atau sekadar memastikan anak merasa aman berada dalam lingkungannya. Hal-hal kecil ini sering luput dari perhatian, padahal menjadi bagian penting dari proses tumbuh kembang anak.
Dalam keseharian anak, perhatian semacam ini membantu membentuk kebiasaan dan rasa percaya. Anak yang merasa diperhatikan cenderung lebih tenang, lebih mudah diarahkan, dan lebih siap menjalani aktivitas belajar maupun bersosialisasi. Pendampingan yang konsisten, meski tidak selalu sempurna, memberi anak pijakan yang stabil.
Di panti asuhan dan pesantren, peran ini dijalani oleh ibu panti dan ibu pondok yang mendampingi banyak anak sekaligus. Dengan keterbatasan yang ada, mereka tetap berusaha menjaga ritme pengasuhan—mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga perhatian pada kondisi anak. Kehadiran mereka sering kali menjadi penentu apakah anak merasa sekadar mendapat asuhan, atau benar-benar mendapat perhatian.
Memaknai Hari Ibu secara Lebih Luas
Hari Ibu menjadi momen untuk melihat kembali makna peran ini secara lebih luas. Bukan hanya tentang siapa yang melahirkan, tetapi siapa yang memilih untuk hadir dan bertahan dalam proses pengasuhan anak. Terutama bagi anak-anak yang tumbuh dalam kondisi rentan, kehadiran tersebut memberi rasa aman yang tidak tergantikan.
Setiap anak berhak tumbuh dengan perhatian dan pendampingan yang layak. Dan setiap perempuan yang memilih mengambil peran itu, dalam bentuk apa pun, layak mendapat apresiasi. Pada Hari Ibu ini, mengingatkan kita bahwa kehadiran yang sederhana, konsisten, dan penuh perhatian sering kali menjadi fondasi terpenting dalam kehidupan anak.
